Cerita Hujan

Mo meninggalkan kantor jam 19.15 setelah menyelesaikan pekerjaan rekannya yang absen karena sakit. Langit mendung dan angin bertiup cukup kencang, membuatnya menyesal tidak membawa baju hangat. Dia membawa payung yang cukup untuk satu orang, duduk di halte bis di sebelah wanita hamil. Antara dia dan wanita itu sama-sama tahu mereka bekerja di gedung yang sama. Wanita itu berharap Mo dapat menemaninya hingga dia mendapatkan taksi. Mo meninggalkannya sendirian setelah mendapatkan bis yang tidak terlalu penuh.

Dia duduk di samping jendela, membuka kaca jendela lebar-lebar, sedikit mengeluarkan kepalanya untuk melihat hal-hal yang sama setiap harinya. Jalanan ini telah menjadi bagian hidupnya selama delapan tahun. Sering dia bertanya apakah dia akan masih di jalan yang sama tahun depan? Dia masih ingat apa yang dipikirkannya dalam perjalanan pulang kemarin; tentang pekerjaannya, keluhan teman-teman kantornya, rencana akhir pekan, rencana cuti, masa lalunya, dan … hujan pun turun.

Dia bisa tidur tenang seandainya air tidak masuk melalui celah jendela. Dia berusaha menutupnya, tapi ada sesuatu yang mengganjal sehingga tidak bisa menutup penuh. Untungnya ini akhir pekan, jadi tidak mengapa dia terpaksa sedikit basah. Penumpang pria di sebelahnya tersenyum menaruh simpati, tapi simpati tidak mengubah keadaan.

Dia turun di gerbang tol Jati Bening dan akan melanjutkan perjalanan dengan bis lain. Anak-anak kecil bergantian menawarkan ojek payung. Dia mengangkat tangan dan menunjukkan payungnya pada mereka, dan setelah itu dia bergegas ke tepi jalan dan berbagi payung kecilnya dengan seorang lelaki tua.

“Pulang ke mana?” tanya Mo.

“Purwakarta,” jawab lelaki tua itu.

Lelaki tua itu seorang pesuruh di sebuah bank di Jakarta dan terbiasa pulang pergi di hari kerja. Capek bukan lagi masalah, lelah sudah jadi bagian hidupnya karena keluargalah yang utama, demikianlah dia berkata pada Mo. Mo berpikir, seharusnya dia bisa lebih bersyukur. Tidak berapa lama lelaki tua itu mendapatkan bis-nya.

Malam semakin larut, orang-orang datang dan pergi, sementara Mo masih menanti bisnya.

* *

Ketika hampir sepi, Mo samar-samar melihat seorang perempuan datang menghampiri. Awalnya dia tidak mengenali, tapi perempuan itu masih ingat wajah Mo. Mo hampir melupakan Sari yang terlihat sangat berbeda sejak sepuluh tahun lalu. Mereka pulang ke arah yang sama, di bis yang sama mereka duduk bersebelahan.

Tidak ada obrolan tentang masa lalu, Mo sesekali melirik wajahnya, tapi Sari lebih sering memandang ke arah luar. Ini hanyalah pertemuan biasa yang bisa terjadi setiap saat, Mo berkata dalam hati. Dia baru akan bersantai ketika tetesan air dari atap jatuh di atas lengannya. Bagaimana bisa mendapatkan dua bis bocor dalam satu perjalanan? Pikirnya. Lalu dia bergeser sedikit tanpa bermaksud merapat ke tubuh Sari. Lengan mereka bersentuhan, Mo bisa merasakan jantungnya bergetar lebih cepat. Sari tahu apa yang dirasakan Mo.

Mereka turun di Tol Bekasi Barat. Tangan Sari bergelayut di bahu Mo saat melewati genangan air atau menghindari kendaraan yang datang dari arah belakang. Tapi Mo kurang beruntung saat sebuah sedan mencipratkan lumpur ke wajahnya. Sari memberikan sapu tangannya, tapi Mo enggan mengotorinya.

Staff only,” kata Mo.

Mereka tersenyum. Mereka tertawa. Sebelumnya, tidak pernah kejadian ini dialami oleh keduanya dengan siapapun. Mereka saling mendekatkan diri, memegang payung bersama seiring arah angin dan hujan yang datang tak beraturan. Sari memuji kebaikan dan kesederhanaan Mo, sementara Mo memuji kecantikan Sari – masing-masing mengatakannya dalam hati.

Tuhan menurunkan hujan untuk maksud-maksud tertentu yang terkadang tidak dimengerti manusia. Dan untuk segala maksud yang dipahami seharusnya menjadikan manusia selalu bersyukur. Pertemuannya dengan Sari membuka kenangan Mo sewaktu dia masih di SMA; dia pernah jatuh cinta padanya tapi tidak pernah menyatakan. Waktu itu semua anak lelaki mendambakan Sari untuk menjadi kekasihnya. Mereka datang dengan kelebihan masing-masing: ketampanan, kekayaan, atau kepintaran, sedangkan Mo hanya orang biasa dan tidak diperhatikan. Sari masih mengingat Mo sebagai anak lelaki yang meminjamkannya payung saat hujan deras di jam pulang sekolah, tidak lebih, tapi Mo menganggapnya sebagai sesuatu yang luar biasa.

Dan sebagaimana pertemuan terjadi, perpisahan datang bukan atas keinginan mereka. Di pertigaan jalan Mo mengucapkan selamat tinggal. Sari membalasnya dengan senyum yang akan selalu diingat Mo.

Hujan semakin deras, Sari memilih berteduh di depan toko dan menghubungi sang suami untuk datang menjemput. Di tempat lain, Mo menelusuri jalanan sepi dengan payung yang tertutup. Dia ingin merasakan air dingin jatuh ke wajahnya, sama seperti sepuluh tahun lalu ketika dia meminjamkan payung untuk perempuan itu dan membiarkan dirinya basah kuyup. Dia masih membayangkan pertemuan mereka barusan. Tentu saja Sari teramat cantik untuk seorang lelaki biasa seperti dirinya. Dia mempercepat langkahnya, bergegas untuk menuju seseorang yang sedang menunggu di rumah, seorang perempuan yang lebih dia cintai.

*  *  *

Tagged as: ,

Author: Ali Reza

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.