Isyarat Sederhana

oleh Amrapali

Hal pertama yang dilakukan Mrs. Sharma setelah pindah ke apartemen no. 402 di Briar Forest adalah berkenalan dengan para tetangganya. Dia, dengan potongan rambut bob dan clemek panjangnya, pertama-tama akan mengunjungi rumah di sebelah kiri dan setelah itu di sebelah kanan. Dia menenteng sebuah baki perak tertutup kain yang sebagian basah karena terendam minyak dengan beberapa makanan yang rupanya berasal dari minyak tadi. Setelah mengetuk pintu apatemen no. 403, dia menunggu di balkon sambil mengipas-ngipas tubuhnya dengan ujung kain.

Dua bocah mengintip dari balik jendela, awalnya mereka terkejut tapi kemudian terlihat kegirangan di sore yang lembap itu. Mrs. Sharma melambaikan tangannya dan tersenyum hingga terlihat bercak sirih di giginya, dan setelah itu melambaikan tangannya lagi – dia suka melakukan hal-hal yang menurutnya penting dua kali, mungkin untuk jaga-jaga, atau boleh jadi karena faktor usia.

Pintu mahoni itu terbuka beberapa saat kemudian, seorang wanita muda mengenakan pakaian bergaris-garis melangkah keluar dengan sebuah gagang telepon ditempelkan di telinganya dan sebuah handphone di telinga lain.

“Nggak kok, latihan bola si kembar mulainya jam dua,” wanita itu berkata. “Tidak, itu sepertinya tidak pantas membuat penerbit Penguin menunggu sementara mereka bisa menarik penawaran secepatnya, pihak sekolah sepertinya juga kurang tegas.” Dia menolehkan kepalanya ke depan. “Tidak, kita tidak ingin membeli barang-barang itu hari ini, terima kasih.” Dia menutup pintu dan melanjutkan pembicaraannya. Kedua bocah tadi tampak kecewa. “Ya sayang, aku sudah ambil seragam anak-anak. Ok. Ok, bye.

“Ya, mulai dengan jumlah itu tapi lihat kalau kamu bisa buat kesepakatan dengan menekan biaya cetak softcover serendah mungkin untuk buku chick-lit terbaru. Kabari aku di rapat nanti.”

Mrs. Sharma (dengan sabar) mengetuk pintu lagi.

“Ya?” tanya si wanita tadi.

“Hell-O,” kata Mrs. Sharma, mengucapkannya seperti menyebut kata Jell-O. “Nama saya Shipra Sharma, tetangga baru Anda. Saya baru pindah ke apartemen no. 402 bersama suami saya Pollob.”

“Oh. Oh!. Oh iya, aduh maaf tentang tadi,” si wanita tertawa, menggelengkan kepalanya karena bertindak bodoh. “Ini sangat memalukan. Maaf. Saya tadi lagi ada telepon, dan sedikit stress, dan saya tidak tahu Anda di situ, dan – saya Tracy Haines, senang berkenalan dengan Anda Ship-Rah.” Dia menjulurkan tangannya dengan ragu, sementara tangan lainnya membetulkan tali bajunya.

“Senang bertemu Anda,” kata Mrs. Sharma, dengan bahasa Inggris yang masih bisa dipahami meski belum sempurna. “Ini, saya membuat pakoras untuk Anda dan keluarga Anda.”

“Ma’af.”

“Pakoras,” dia tersenyum, menyodorkan bakinya. “Ini makanan India: daun kol dan kentang dengan tepung lalu digoreng. Makan ini selagi panas. O, iya, kasih juga buat dua anak Anda itu. Bahkan orang Amerika pun tidak bisa hidup tanpa buah-buahan tiap hari, bukan?” Dia tertawa terkekeh, mengucapkan kata-kata tadi, dan setelah itu menarik nafas dan menyembunyikan kegembiraannya di suatu tempat yang dalam di antara mulut dan hidungnya. “Baiklah, saya berharap bisa bertemu Anda lagi.”

“Terima kasih, Anda sangat baik. Ini bakinya.” Tracy mengangkat dan menaruh makanan itu di atas kain di bawah tangannya.

“Sampai jumpa,” kata si ibu sibuk itu, berlari menaiki tangga membawa makanan berminyak, lalu menaruhnya di sudut kosong lemari.

Mrs. Sharma, kini berjalan ke apartemen no. 404 di sisi lain, dia berpikir keras. “Tempat yang aneh. Seumur-umur saya belum pernah mengembalikan pada seseorang, atau belum pernah seseorang mengembalikan padaku, sebuah baki kosong.” Dia menggeleng-geleng kepalanya, lalu terdiam sebentar, dan kemudian mengeleng-geleng lagi.

***

Tagged as:

Author: Ali Reza

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.