Jerapah (1)

Intro

 

Bayu naik ke tempat tidur jam 11 malam setelah menuntaskan pekerjaan rumah. Angin tipis meniup rambutnya, LED hijau AC menjadi satu-satunya cahaya dalam gelap. Dia membalikkan badan, lalu menarik selimut hingga menutupi kepala. Tidak ada posisi bagus yang bisa mempercepat tidurnya. Dia menguap panjang dan melihat jam di seluler: 00.06. Dia harus bangun sebelum subuh, sarapan jam 5.30 lalu berangkat ke sekolah tepat jam enam. Rutinitas membosankan, dengan kata “bosan” tertulis di buku catatan saat guru akuntansi menerangkan pelajaran. Mengapa tidak sekolah bukan merupakan sebuah pilihan?

Dia menyalakan lampu, menyipitkan matanya sampai jelas terlihat deretan buku-buku di atas rak sebelah kanan. Pandangannya berhenti pada sebuah novel Agatha Christie favoritnya edisi lama. Dia menyukai Hercule Poirot dan jatuh cinta pada bacaan Christie pertamanya “Pembunuhan Atas Roger Ackroyd.” Namun bukan karena itu buku itu terasa istimewa. Ada sebuah amplop dengan secarik surat dan foto di dalamnya. Dia memandang foto itu. Sudah empat bulan sejak terakhir kali dia melihatnya, atau lebih dari satu setengah tahun lalu sejak pertama kali foto itu dicetak. Foto itu bercerita tentang dia dan ketiga temannya, yang  mengingatkannya kembali pada urutan-urutan kejadian saat pertama kali dia meninggalkan rumah. Mereka punya semangat untuk hidup, saling mendukung dan menjaga, dan tanpa impian, mereka punya alasan sendiri-sendiri untuk terjun ke jalanan.

2>>

Tagged as:

Author: Ali Reza

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.