Jerapah (2)

Toto

 

Pak Marmo masih enggan beranjak dari kursi teras sejak istrinya membawakan sarapan satu jam lalu. Dia memandang jalanan sepi sambil memasang telinganya, sekedar melatih pendengaran untuk mengetahui penyakit sepeda motor yang melintas di depan rumahnya. “Honda-Tiger … Terlalu pur,” gumamnya, sepuluh menit kemudian datang satu sepeda motor lain terengah-engah. “Astrea-Grand … Parah.”

Dia berumur empat puluh dua, bertubuh kurus dan berwajah tirus, dan jika menilainya dari kacamata di ujung hidungnya, maka orang-orang akan menyangka dia sebagai guru ketimbang mantan montir. Kopinya yang tinggal setengah gelas sudah terlanjur dingin, seperti itulah selalu disisakan. Jalanan kembali sepi, Pak Marmo kembali duduk. Dia mengambil tabloid Motor edisi Desember di atas meja dan membaca ulang spesifikasi Yamaha keluaran terbaru.

Ibu Sri datang dari dalam rumah dengan sekeranjang cucian yang cukup berat tampak senang tidak melihat ada tanda-tanda hujan pagi itu. Melihat tubuh gemuknya, barangkali dia tidak akan kesulitan mengangkat keranjang cucian walaupun tidak berharap sang suami akan membantunya mengambil satu keranjang lain di sumur. Antara Pak Marmo dan Ibu Sri bukan angka sepuluh, kecuali mereka adalah pasangan serasi, setidaknya seperti itulah gambaran perjalanan rumah tangga mereka selama lima belas tahun yang nyaris tanpa konflik.

Selama setahun belakangan Pak Marmo menjalani kehidupan sebagai petani setelah bengkelnya tutup akibat perluasan jalan. Kini peralatannya teronggok di gudang dan dia mendapat kompensasi yang cukup untuk modal bertani. Sebenarnya penghasilan dari bertani tidak terlalu buruk, namun keinginan untuk membuka bengkel kembali begitu kuat. Dia bersyukur ketika Pak Tikno, sang kakak, menghibahkannya sebuah kios sempit bekas warung nasi sewaan. Letaknya cukup strategis, di perempatan jalan dekat pangkalan ojek. Dia tidak ingin mengambil karyawan lain kecuali Toto, anak pertama Pak Tikno, yang akan membantunya di bengkel nanti.

Pak Tikno meninggal akibat stroke lima bulan lalu sehingga tidak banyak yang bisa kuceritakan tentang beliau kecuali sebagai ayah yang baik bagi kedua anaknya. Kini rumah Pak Tikno dikontrakkan, uangnya digunakan untuk biaya kedua anaknya. Rumah tersebut akan diserahkan kembali kepada mereka saat dewasa nanti, begitulah janji Pak Marmo kepada Toto. Pak Marmo membesarkan mereka tanpa membeda-bedakan kasih sayang antara keponakannya dengan ketiga anak kandungnya.

Toto berusia enam belas, seorang pendiam, bertubuh gempal, tangan berotot dengan kepalan yang sangat kuat. Tidak ada yang ingin berkelahi dengannya, tapi dia lebih memilih menghindari perkelahian. Kebiasaan merokoknya datang sejak sang ibu meninggal, namun meski begitu dia cukup pengertian untuk tidak melakukannya di rumah.

Sementara Tono berada di sisi berlawanan sang kakak, memiliki wajah lembut dengan perilaku sopan seperti kebanyakan anak-anak suku Jawa, berprestasi di sekolah dan rajin beribadah. Mereka tidur di kamar yang sama, mengobrol sebelum tidur yang biasanya berakhir dengan keinginan Toto pergi ke Jakarta. Tono sangat sedih setiap kali sang kakak berkata demikian.

Pak Marmo kembali membuka bengkel di bulan Oktober, dan seperti janjinya, Toto diminta untuk ikut membantu. Meski Toto tidak pernah menolak atau menyanggupi, dia bisa muncul di bengkel tanpa diduga-duga, lalu tanpa basa-basi membantu sang paman melepas roda atau membuka ban, menambal, merapihkan kunci atau membongkar karburator dengan mudah. Malah di hari-hari bengkel ramai, dia dengan serius membantu Pak Marmo hingga larut malam. Itulah mengapa Pak Marmo masih bisa melihat harapan dalam diri Toto untuk menjadi seorang anak dengan masa depan yang lebih baik.

Akan tetapi, ketika harapan berbeda dengan kenyataan, Pak Marmo harus menghadapinya dengan kesabaran. Di tahun kedua Toto tidak lagi pergi ke sekolah dan jarang pulang, desas-desus yang menyebutkan bahwa Toto sudah menjadi preman kampung membuat Pak Marmo semakin cemas. Kecemasan Pak Marmo menjadi kenyataan tatkala pada suatu malam Toto pulang dengan bau alkohol dan penampilan lusuh.

“Dari mana, To?”

“Bukan urusanmu!”

“Aku Pakde-mu, To!” Pak Marmo meraih bahu Toto, tapi Toto mengelak dan mendorongnya hingga hampir terjatuh. Tono dan ketiga anak Pak Marmo menyaksikan pemandangan yang tidak seharusnya mereka lihat. Selanjutnya Pak Marmo harus menghadapi kenyataan pahit lain ketika Toto sering menjadi penyebab keributan di desa:

Toto memecahkan kaca mobil Purnomo, anak kepala desa; mematahkan beberapa kursi warung makan Pak Satrio karena tidak memberikannya minuman dan rokok; berkelahi dengan pemuda kampung tetangga. Toto dikeroyok, tapi tiga pemuda pengeroyoknya yang malah terluka parah; menantang preman pasar dan terjadi perkelahian hebat satu lawan satu. Toto menang, sang preman pasar dilarikan ke rumah sakit; teler. Warga sering menemukannya tertidur di pinggir jalan.

Tapi kenakalan Toto berakhir ketika pada suatu malam dia melihat pamannya menangis.

“Maafkan Toto, Pak De,” kata Toto menyesal.

“Pak De nggak bisa melindungi kamu lagi, To. Warga pingin kamu pergi dari kampung.”

Namun perasaan bersalah Toto lebih kepada adiknya. Tono yang malam itu sedang mengaji di langgar tidak akan menemukan kakaknya lagi keesokan harinya. Toto pergi diam-diam sebelum subuh dengan membawa tiga stel pakaian, dua bungkus rokok, dan sedikit uang. Dia sempat memandang lama wajah Tono yang sedang tidur. Ada kenangan, kekhawatiran dan harapan kepada adiknya. Dia berjanji akan kembali pulang suatu saat nanti. Tidak ada air mata yang jatuh, dia meninggalkan lima puluh ribu terselip di buku sekolah Tono.

3>>

Tagged as:

Author: Ali Reza

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.