John dan Sam

John duduk bersandar pada dinding di pagi hari yang dingin. Danau yang di hadapannya masih dipenuhi kabut. Dia sepertinya enggan meninggalkan kabin dan kembali ke kota. Perasaannya bercampur aduk karena memikirkan Sam tersayang.

Enam bulan lalu sejak pertemuan mereka di saat jabatan tangan pertama yang menggetarkan jiwanya, sementara Sam mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ada dua Sam di kantor mereka, Samantha Lee di bagian keuangan. Sementara itu John mencintai Sam si sekretaris.

Saya mengerti perasaan Anda seperti juga perasaanku, tapi aku memilih kehidupan normal bersama orang yang benar-benar kucintai. Tentu aku sayang padamu, John. Menyayangimu sebagai teman. Aku akan pergi ke Idaho bersama adik perempuanku.

John menutup surat itu dan membaca alamat di bagian belakangnya.

Ketika perbedaan memisahkan orang-orang yang saling mencintai, mereka terpisah karena memiliki kesamaan. John menghela nafas, menyandarkan kepala di atas kedua lengannya. Sadar tidak bisa terus menerus menyembunyikan hubungan mereka di antara teman-teman kantor, dia hanya menceritakan kisah cintanya pada orang-orang tertentu.

John Cotton merupakan seorang pria sendiri di awal empat puluh tahun, berwajah tampan dengan tubuh tegap dan berwibawa. Tidak ada wanita yang tidak menyukainya pada pandangan pertama, kecerdasannya membuat siapa saja menyenanginya. Tapi kali ini dia rapuh, serapuh sayap kupu-kupu. Jika Sam mengatakan bahwa dia akan menikah di bulan Maret, maka jatuhlah seluruh air matanya seperti seorang perempuan.

Di bulan September John terbang menuju Idaho dengan perasaan tak menentu. Dia akan memberikan Sam hadiah berupa buku pertemanan edisi lama yang disimpan dalam tas.

Dalam perjalanan dengan taksi John berkisah panjang lebar menceritakan bagaimana dia mencintai kekasihnya. Tapi supir taksi lebih suka memejamkan mata ketimbang mendengarnya bicara. Setidaknya seperti itulah John menganggapnya.

John menelpon Sam dari telepon umum di depan toko grosir. Sam menjawabnya dengan lembut seperti suara lama yang hilang. Lalu setelah itu terdengar sayup-sayup suara seorang perempuan memanggil di belakang Sam.

“Adikmu?” tanya John.

Hari itu sedikit mendung, angin membawa daun-daun berterbangan bersama debu dan pasir ke langit. John melangkah dengan perasaan berdebar-debar. Hanya lima menit lagi dia sampai di depan rumah kecil Sam.

Sam tersayang berada di atas tangga, di rumah yang dibeli dari uang tabungannya. Kini rambutnya lebih pendek dan menarik. Beberapa waktu lalu dia sering menceritakan pada John tentang rumahnya beserta taman dan ayunan yang dibuatnya sendiri, namun gambarannya berbeda ketika John datang melihatnya.

“Tidak ada ayunan?”

Sam tersenyum dan menjawab, “Tidak.”

John menyodorkan tangannya, tapi Sam tidak berharap John memeluknya. Pintu terbuka, seorang perempuan muda cantik melangkah keluar dan langsung berdiri di sebelah Sam. Dia pasti Lily, saudari Sam seperti yang pernah diceritakannya.

“Ini Jane. Istriku.”

Jane memeluk Sam dari belakang. Lalu Sam menciumi jemari Jane.

Dan John memperkenalkan dirinya kepada Jane sebagai John Cotton, kawan lama suaminya. Tapi John tidak menyerahkan buku pertemanan itu pada Sam, melainkan pada Jane sebagai tanda pertemanan barunya. “Sam menyukai ini,” dia berkata.

Jane membuka bungkusnya dan mendapatkan sampul indah dengan sebuah kartu ucapan di atasnya, lalu membacanya untuk Sam.

Untuk Samuel Simmons.

Persahabatan selamanya.

John J. Cotton.

“Sangat menyentuh,” ucap Jane, tangannya membelai perutnya. Dia mengagumi persahabatan mereka. Mungkin kelak ketika anaknya lahir dan bicara, sang anak sudah memiliki seorang paman yang baik, Paman John.

Dan untuk terakhir kalinya John memberikan senyum untuk Sam. Untuk kisah cintanya di masa lalu dan untuk mengakhiri kisah ini.

* * *

Tagged as:

Author: Ali Reza

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.