Kisah Cinta Tom Love -1-

Donlot Mobinlot.

Itu nama asliku.

Jangan tertawa.

Ayah memberi nama itu tujuh hari setelah kelahiranku, di hari akikah, spontan, dan tanpa rasa bersalah. Dua puluh delapan orang yang hadir di rumah kami terheran-heran mendengarnya, sebagian lainnya menahan tawa, mengira Ayah sedang bercanda. Pak Kyai bertanya kepada Ayah untuk sekedar memastikan apakah Ayah serius memberikan nama itu. Mulut ibu ternganga seolah tidak percaya saat Ayah berkata:

“Ada masalah dengan nama itu?”

Sebagian tamu undangan tertawa geli, sementara hanya sedikit yang merasa kasihan padaku. Kakek terlihat bangga pada Ayah. Ayah bisa mendengar orang-orang berbisik memplesetkan namaku dengan kata-kata bandot, kolot dan idiot, lalu menyebut Ayah sebagai orang tua tidak tahu malu. Setelah berdehem dua kali Ayah berkata:

“Tuan-tuan, aku serius dengan nama itu.”

Akan tetapi, rupanya suara Ayah belum cukup meredakan suara-suara berisik itu, sehingga dia perlu mengulanginya lagi.

“Aku serius, sialan!” Ayah memukul lemari bufet di belakangnya, membuat cangkir-cangkir keramik berdenting hampir terjatuh. Jarum jam berhenti berdetak, nyamuk membeku di udara. Tidak ada yang berani membantah Ayah, semuanya menunduk dalam keheningan.

“Kautahu? Ayahmu tidak seserius ucapannya,” kata Ibu membuatku bingung. Lalu dia terdiam beberapa saat sebelum berkata lagi, “Oh Tuhan. Donlot Mobinlot. Nama macam apa itu?” Ibu meniru gaya Ayah menepuk dahi. “Ayahmu terlihat puas nama anaknya jadi lelucon.”

Lelucon? Teganya.

Tiga hari kemudian Ayah dan Ibu mendatangi Kantor Catatan Sipil untuk mengurus akta kelahiranku.

Ibu, yang duduk di sebelah Ayah, masih berharap-cemas Ayah akan mengganti namaku sebelum dipatenkan ke dalam sebuah akta.

“Tolong catat!” kata Ayah sambil mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuknya. “Donlot Mobinlot.”

Jari-jari Petugas Catatan Sipil menggantung di atas tombol-tombol mesik tik besi, rokoknya tertahan di ujung kanan bibirnya.

“Apa? … Idiot?” kata petugas memastikan, meskipun lebih tepatnya mengejek namaku. Sambil menahan tawa dia membaca surat keterangan dari bidan.

Jelas sekali Ayah dan Ibu mendengarnya. Tapi Ayah tidak ingin akta kelahiran sang anak terkena noda darah setelah menampar si petugas hingga membuat bibirnya pecah. Ayah menyebut ulang namaku dengan mengejanya, dan setelah itu berkata: “Ada masalah dengan nama itu?”

Si petugas buru-buru menaruh rokoknya di asbak dan mengetik namaku dengan cepat. Ibu menahan sedih. Ayah menarik lengan ibu dan memeluknya. Bunyi mesin tik mengalahkan suara tangis ibu.

“Kenapa nama itu, Bu?” Pertanyaan itu selalu kuajukan setiap sore ketika Ibu mengangkat pakaian kering dari tali jemuran.

“Ayahmu seperti mendapat ilham,” jawab Ibu sedih sambil memasukkan pakaian ke dalam keranjang.

“Ibu malu punya anak dengan nama aneh?”

Ibu tidak pernah menjawabnya karena Ibu tidak memanggilku dengan nama Donlot atau Mobinlot. Dia menyukai nama Thomas dan selalu memanggilku dengan nama itu. Dia bilang nama itu sama seperti nama kakek, Thomas Stevenson. Kautahu, Ayah dari Ibu berasal dari Inggris.

Terakhir kali menanyakan tentang namaku, Ibu berkata: “Berhentilah bertanya tentang nama!”

Aku pun berhenti bertanya pada Ibu.

Kau mungkin bertanya mengapa aku tidak bertanya pada Ayah?

Sial, aku bahkan menanyakannya sejak aku bisa bicara. Tapi Ayah senang membuatku jengkel dengan tidak menjawabnya.

 

* *

 

Sebenarnya aku bukan anak pertama, kakakku lahir dua tahun sebelum kelahiranku tapi dia hanya bertahan hidup selama dua jam. Ibu tidak sempat menamainya, tidak ada yang memberinya nama. Ayah bilang, nama tidak penting buat manusia yang tidak bisa bertahan hidup. Kakakku dimakamkan tanpa nama di nisan.

“Semoga kakakmu mendapatkan nama di surga,” kata Ibu sedih.

Adikku lahir tiga tahun setelah kelahiranku. Ibu cepat-cepat memberinya nama Andrew, seperti nama adik dari kakek, Andrew Stevenson. Lalu keesokannya, secara diam-diam Ibu mengurus akta kelahirannya.

“Ayahmu tahu Ibumu pergi ke kantor Catatan Sipil,” kata Kakek. “Tapi dia membiarkannya.”

Kehidupan adikku seharusnya berjalan normal seandainya saja sang kakak memiliki nama yang lebih baik. Andrew ikut terhina ketika teman-teman sekolahnya menghina namaku.

“Aku tidak idiot, Bro. Aku Mobinlot,” kataku. “Kau tidak perlu marah. Kau juga tidak perlu berkelahi dengan mereka.”

Aku mengatakan demikian bukan berarti membiarkan orang lain seenaknya mengejek namaku. Aku bisa menghitung berapa kali aku berkelahi untuk membela kehormatan diriku (dalam hal ini aku juga membela ayah). Tapi ketika perkelahian sudah menjadi kebiasaanku, maka kalimat “tangan gatal-lah” yang menjadi alasanku berkelahi. 239 perkelahian selama di SD, 472 perkelahian di SMP, dan menurun tajam menjadi 22 sewaktu di SMA dimana penurunan itu terjadi setelah mereka tahu tidak akan ada yang pernah menang berkelahi melawanku.

“Ayahmu dulu juga suka berkelahi,” kata Kakek bangga sambil menepuk-nepuk bahuku. “Kakek juga. Kau juga, Tampan.”

Mendengarnya, membuatku berpikir, barangkali Ayah memberiku nama aneh hanya untuk membuatku gemar berkelahi. Akan tetapi, dengan berpikir demikian malah akan menambah kebencianku kepada Ayah. Tentu saja aku menolak bakat berkelahi mereka menurun padaku.

“Aku beda!” kataku tegas. “Aku suka matematika!”

Sewaktu kubilang demikian Kakek malah tertawa.

“Jangan emosi, Jagoan. Dengarlah…” Kakek menepuk-nepuk lantai menyuruhku duduk kembali. Aku menyandar ke dinding dan menggelosor ke lantai. “Kautahu, di usia tujuh tahun Ayahmu bisa menghitung dua puluh dua digit angka perkalian tanpa kalkulator. Tidak ada yang sanggup mengalahkannya. Tidak juga mengalahkan kejeniusannya dalam kalkulus, aljabar, geometri, logika … Ayahmu berbakat.”

Sial! Benarkah? Tapi sepertinya Kakek tidak peduli pada bakat intelektualitas anak dan cucunya.

“Ada hal penting lain yang perlu kautahu tentang Ayahmu,” sambungnya, kali ini Kakek terlihat serius. Aku sedikit menggeser posisi dudukku lebih mendekat ke Kakek. “Ayahmu bisa menjadi seorang pendiam, pemalu, bodoh, penakut dan pemarah dalam waktu bersamaan. Dia punya dua, tiga, empat atau lima kepribadian,” Kakek menghitung di jari tangannya. “Kurasa Ayahmu menamaimu saat dia jadi orang bodoh,” Kakek tertawa geli.

“O, ya? Apakah anakmu juga … gila?” tanyaku, yang dalam hal ini lebih baik menyebut Ayah sebagai anak Kakek. “Sakit jiwa? Gangguan psikologis? Schizophrenia?” Bertanya blak-blakan seperti itu bukanlah sesuatu yang terlarang dalam keluarga kami.

“Schi … apa?!” tanya Kakek diteruskan dengan tawa terbahak-bahak, dan berhenti setelah terbatuk-batuk parah. “Sebut saja ayahmu sebagai penyimpangan keluarga.”

Aku bersyukur tidak seperti Ayah; sejauh ini kehidupan psikologisku berjalan normal dan tidak menunjukkan tanda-tanda penyimpangan. Akan tetapi, aku tetap mencari tahu alasan mengapa Ayah menamakanku demikian. Bagiku ini tuntutan intelektualitas dan setiap orang punya hak untuk tahu arti nama dari orang tuanya. Aku mencari tahu arti namaku untuk terakhir kalinya beberapa hari sebelum Ayah meninggal. Waktu itu usia Ayah lima puluh empat, matanya tajam menatapku, semangatnya tinggi dan masih ingin tertawa saat kutanya arti namaku.

“Kau tidak akan menemukan artinya, Nak. Tidak akan. Nama itu melintas begitu saja di pikiranku.”

Demi Tuhan!

“Donlot … Mobinlot …” Ayah menahan tawa. Namaku menjadi kata-kata terakhirnya sebelum meninggal di bulan Januari.

Seharusnya aku berhenti mempermasalahkan arti namaku, tidak menyalahkan Ayah, dan terus melanjutkan hidup walaupun harus bersabar melihat orang-orang menahan tawa saat mendengar namaku. Seharusnya aku sepakat dengan Shakespeare tentang ‘Apalah arti sebuah nama’ karena toh banyak orang di negeri ini bernama aneh dan menjadi orang sukses, seperti tetanggaku, namanya Pak Trompet Mlengking yang sukses menjabat sebagai Camat. Maksudku, jika seseorang sukses, maka nama apa pun tidak akan menjadi masalah dan malah bisa menjadi sebuah kebanggaan, dan karena itu tidak ada alasan bagiku untuk marah kepada orang yang menghina namaku. Akan tetapi perlu kutegaskan bahwa ini bukan lagi sekedar masalah nama; rasa penasaran yang terus menghantui membuatku perlu mencari tahu dan meneliti sendiri makna di balik namaku.

Singkatnya, setelah melalui penelitian selama berbulan-bulan dan studi referensi mendalam, akhirnya aku mendapatkan sebuah kesimpulan singkat antropologi, bahwa pengulangan suku kata dalam namaku tentu saja sangat Sunda. Namaku bisa disejajarkan dengan Didi Maryadi, Entis Sutisna atau Asep Surasep. Lebih jauh lagi, arti nama lengkapku menunjukkan kemajuan dan kemodernan pikiran si pemberi nama (setidaknya di tahun ‘80-an “dia” sudah memunyai visi atau lebih tepatnya mimpi tentang kemajuan teknologi informasi berpuluh tahun kedepan). Donlot sebagai mana kautahu berasal dari kata Download, yang artinya mengunduh, sedangkan Mobinlot berarti Mobile atau bergerak. Penggabungan dari keduanya bisa diartikan sebagai unduhan berjalan, atau aku seperti sumber ilmu pengetahuan. Akhirnya, dengan menerima artian tersebut aku bisa menghormati Ayah. Aku juga bisa membawa diri tanpa mengkhawatirkan perasaanku yang tersinggung saat orang lain menertawakan namaku. Kini aku adalah seorang Profesor Matematika di ITB yang bahagia dengan namaku sendiri.

Jika menurutmu panggilan Profesor Donlot Mobinlot terasa kurang nyaman, maka kau cukup memangilku dengan “Prof.”

Tagged as:

Author: Ali Reza

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.