Kisah Cinta Tom Love -2-

Ah, tidak ada rutinitas yang lebih menyenangkan bagi seorang profesor lajang sepertiku selain mengajar dan memecahkan persoalan matematis yang dihadapi dunia industri atau militer atau bergabung dengan ilmuwan-ilmuwan dunia dalam pertemuan ilmiah tahunan membahas rumus-rumus yang belum bisa terpecahkan. Terlebih kesenanganku semakin bertambah ketika deretan korporasi dunia memintaku untuk memprediksi pergerakan saham. Aku beserta para ahli matematika lainnya bergabung dengan ahli fisika, ahli ekonomi & keuangan, ahli teknologi informasi, dan ahli psikologi kedalam sebuah kelompok untuk memenangkan persaingan korporasi dan menghasilkan milyaran dolar. Dengan ratusan ilmuwan berkumpul di Wall Street menjadikan pertemuan itu seperti sebuah silaturrahmi akbar para ilmuwan dunia di luar kegiatan akademis. Kami mendapat bayaran tinggi, kebebasan berpakaian, hangout, clubbing, dan menghadiri pesta-pesta sosialita. Bahkan salah seorang CEO bank terkenal di Amerika pernah menghadiahkanku sebuah BMW hitam seri 7 terbaru. Tentu saja ada konsekuensi lain jika aku menerimanya, di samping rasa tidak nyaman terikat dengan seseorang. Lagi pula aku hanya seorang Profesor sederhana yang selalu berpergian dengan Vespa kesayangan, menggunakan gaji sesuai dengan kebutuhan dan mendonasikan sebagian besar sisanya kepada mereka yang membutuhkan. Aku masih ingin tersenyum teringat ketika CEO bank terkenal itu memberiku kunci BMW, karena pada saat itu aku berkata padanya: “Mobil ini sangat indah dan mahal. Tapi mendapat perhatianmu melebihi dari apa kudapat dari mobil indah ini.” Aku berhasil membuat merah pipi CEO bank terkenal yang cantik itu.

Namun siapa sangka imbas resesi tahun 2007 berdampak pada kehidupan para ilmuwan, terutama pada teman-temanku para ahli fisika. Kami dituduh sebagai salah satu penyebab ambruknya ekonomi Eropa dan Amerika. Stasiun-stasiun TV menampilkan ahli ekonomi dan keuangan untuk membeberkan kesalahan-kesalahan kebijakan ekonomi termasuk di dalamnya keterlibatan para ahli fisika dalam penyalahgunaan ilmu mereka.

“Fisika seharusnya mempelajari fenomena alam, bukan kepastian di tengah-tengah spekulasi!” protes seorang ahli fisika idealis berambut putih. Assyifa Latief, si pembawa acara yang cantik itu tampaknya tidak terlalu tertarik dengan obrolan membosankan tersebut. Dia bahkan menguap beberapa kali ketika si ahli ekonomi membeberkan kesalahan para ahli fisika di papan tulis.

Para ahli fisika tertuduh menyembunyikan diri dari publik sambil memikirkan segala tuduhan yang ditimpakan kepada mereka. Salah satu rekanku dari Jerman, Profesor Hans Polimer, tersadar dan merasa bersalah menggunakan ilmu yang tidak di jalur semestinya. Dia mendorong rekan-rekannya supaya tetap setia kepada tujuan ilmu mereka dan bukan untuk menguntungkan korporasi.

Di awal 2008 para ahli fisika mengundurkan diri dari AIG, Enron, Citibank, dan perusahaan lainnya untuk kembali ke kampus masing-masing, untuk kembali meneliti di laboratorium  dan menulis jurnal. Termasuk Profesor Hans, yang menjual rumahnya di Baverly Hills untuk hidup sederhana di sebuah apartemen kecil di pinggiran Detroit. Dalam email-nya padaku dia menceritakan sebuah penelitian kecilnya sekaligus meminta bantuanku untuk penghitungannya. Kini beliau merasa lebih tenang hidup dengan mencetak manusia-manusia berbakat di bidang fisika. Aku menyukai Profesor Hans dan rekan-rekan ahli fisika.

Sebenarnya, tidak ada yang perlu menyalahkan para ilmuwan atas penyebab krisis ekonomi di Amerika dan Eropa. Ilmu apa saja bisa dimanfaatkan selama ilmu tersebut digunakan untuk kebaikan, terlebih menyalahkan kami, para ahli matematika, mengingat kehadiran kami merupakan permintaan mendesak para CEO dan ahli-ahli di bidang lain. Seandainya ahli psikologi meminta kami menghitung tingkat stress para eksekutif perusahaan – seperti mengganti kata galau, stress berat atau stress banget dengan bilangan akar kuadrat – maka akan kami lakukan. Kepada para ahli keuangan, kami juga menyebut waktu terbaik untuk melepas saham dengan angka dan grafik, bukan dengan kata-kata menyenangkan seperti suhu politik sedang baik, lalu berteriak: JUAL!

Memang, kami tidak mengatakan matematika lebih hebat ketimbang cabang ilmu lainnya, akan tetapi kami sangat dibutuhkan.

Oh Tuhan, aku sangat mencintai matematika. Sering kali kebersamaanku dengan matematika seperti halnya bercinta: penuh nafsu dan penetrasi. Kupikir hal ini akan berlangsung bertahun-tahun dan sepertinya akan berjalan selamanya. Hingga pada suatu malam, di awal Desember 2010, selepas menghitung prediksi arah pergerakan investasi tahun 2011 – beserta rumus-rumus turunannya – aku menemukan jiwa lain yang membawaku kepada sebuah keindahan menenangkan, seperti membawaku kepada cinta baru, terbang ke awan melintasi imajinasi, berjalan di atas jembatan kebahagiaan yang mencekam, berdiri ditengah-tengah ruang keluguan penuh komedi, duduk manis di kursi mewah teater menonton sebuah pertunjukkan drama romantis tentang kehidupan pasangan muda yang ingin saling membahagiakan dengan keterbatasan keuangan mereka saat menyambut hari raya. Ternyata, apa yang kukira jiwa ini sudah terpuaskan dengan angka-angka selama ini bisa dipuaskan dengan cara lain. Aku merasa lebih terhibur dengan kalimat-kalimat yang tertulis dalam sebuah cerita karya William Sydney Porter, atau yang biasa kaukenal sebagai O. Henry. Malam itu, di awal tahun 2011, untuk pertama kalinya aku membaca The Gift of The Magi.

Seperti judulnya, kisah itu memberi hadiah (gift) tersendiri bagiku. Selain ceritanya yang menyentuh, kata-katanya membuaiku terbang tinggi, kemudian jatuh perlahan di landasan empuk dan menggodaku untuk terus membacanya berulang-ulang.

Dan setelah puas dengan The Gift of The Magi, aku berhasrat menyentuh karya Poe. Kali ini aku seperti sedang menyaksikan drama mengerikan, kisah tentang seorang pemuda yang membunuh seorang pria tua hanya karena terusik oleh matanya; sebuah pembunuhan sempurna dengan hitungan matang. Sang pembunuh membenamkan mayat si orang tua di bawah lantai kayu sehingga dia dengan tenang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan polisi. Polisi percaya saja. Namun pada kenyataannya si pembunuh tampak tidak tenang. Bunyi degup jantung si orang tua masih terngiang-ngiang di dalam kepalanya sehingga dia tidak sanggup menahannya. Sampai akhirnya, dia membuat pengakuan bahwa dialah pembunuh pria tua itu sambil menunjuk-nunjuk tempat mayatnya disembunyikan.

Hari-hari berikutnya aku jatuh tergila-gila pada sastra. Hal ini membawaku pada keingintahuan apakah para jenius sastra memiliki kemampuan matematis dalam menempatkan kata-kata. Aku menganalisa karya Sergei. Namun, entah aku yang terlalu bodoh atau dia yang terlalu pintar, hitungan-hitunganku terhadap jumlah kata sifat, kata kerja, hingga kata-kata kasar tidak mendapatkan hasil seperti yang kuharapkan. Misalnya dalam penggunaan kata sifat: ada penulis yang sangat sedikit menggunakannya, namun di sisi lain banyak yang gemar mengumbar kata sifat. Kata-kata tertentu yang ditulis secara berulang sepertinya juga tidak terlalu berpengaruh, seperti kata ‘tetapi’ yang sering muncul dalam satu paragraf justru digunakan dengan sangat baik, bahkan terkesan sangat indah dan mengagumkan. Pada akhirnya, aku hanya bisa tersenyum sendiri sambil mencari tahu cara lain mempelajari sastra.

Tagged as:

Author: Ali Reza

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.