Mat Soni

Nama Mat Soni pernah menjadi semacam legenda di kampung kami. Mungkin menyebutnya sebagai legenda terlalu berlebihan, apalagi Mat Soni adalah seorang kriminal. Tapi aku punya alasannya.

Aku berumur empat belas tahun sewaktu legenda Mat Soni masih hidup. Sering kali kulihat dia terbaring teler di pos ronda saat aku berangkat sekolah dan masih belum beranjak saat aku pulang sekolah. Nama Mat Soni sering disebut para orang tua di kampung kami untuk contoh anak nakal.

“Nak, jangan seperti Mat Soni si anak durhaka!” kata Ibuku.

Ayahnya memberi nama Mat Soni dengan harapan kelak sang anak bisa bekerja di pabrik Sony. Tapi rupanya Mat Soni tidak beruntung. Sebelum dia beranjak dewasa, Sony sudah menutup pabriknya di Indonesia. Akan tetapi, meskipun pabrik Sony masih berdiri, mustahil bagi Mat Soni bisa bekerja di sana karena dia melewati masa sekolah dengan kenakalannya.

Teman-teman Mat Soni di pasarlah yang paling berjasa membentuknya sebagai seorang lelaki sejati. Dia lebih menghormati orang yang memberikannya sebatang rokok ketimbang orang tuanya. Dia sukses maling ayam di malam lebaran, tapi tertangkap saat mencuri sepeda. Satu sel dengan pencuri sepeda motor menginspirasinya untuk melakukan kejahatan yang sama. Reputasinya menanjak ketika dia menghajar preman-preman dari kampung lain, dan dari situlah karirnya sebagai tukang pukul bayaran berawal.

Nama Mat Soni sering disebut untuk menakuti-nakuti orang, rumor yang beredar menyebutkan dirinya kebal dari senjata tajam dan tidak tembus peluru. Dia ditangkap polisi untuk kedua kalinya karena mencuri sepeda motor. Di penjara kota dia menghajar habis seorang pemerkosa di, lalu memotong penisnya yang kemudian membuatnya tewas akibat kehabisan darah. Mat Soni benci pemerkosa. Itulah pembunuhan pertama Mat Soni. Dia dipindahkan ke penjara propinsi dengan tambahan hukuman lima tahun.

Aku, dengan kehidupanku seperti kebanyakan anak lugu yang sering diganggu anak bertubuh besar, terkadang membayangkan memiliki keberanian Mat Soni. Itulah sebabnya aku punya nyali menyembunyikan Mat Soni di rumahku di saat-saat terakhirnya.

Siang itu aku baru pulang sekolah ketika menemukan ceceran darah di lantai di sepanjang rumah. Kedua orang tuaku masih bekerja dan biasanya pulang setelah maghrib. Aku melangkah dengan hati-hati memasuki rumah dan menemukan Mat Soni tengah bersandar di dinding ruang tengah sambil memegang perutnya yang terluka. Aku kasihan padanya. Kau pasti juga akan merasa kasihan melihat orang yang sedang kesakitan, bukan? Kemudian aku berlari ke teras dan melihat keramaian di jalan. Pastinya warga dan polisi tengah mencari-cari Mat Soni. Seorang tetanggaku datang menghampiriku dan menanyakan apakah aku melihat Mat Soni. Aku menggelengkan kepala  dan setelah itu dia pergi. Kemudian aku bergegas ke dalam rumah dan mengunci pintu.

“Heru .. Namamu Heru, kan?” panggil Mat Soni.

Aku mengangguk.

“Kemari …”

Aku tidak berpikir Mat Soni akan melakukan sesuatu yang buruk padaku, jadi aku memberanikan diriku untuk mendekatinya.

“Bawa aku ke kamar mandi.”

Aku membantunya berdiri dan memapahnya berjalan; tubuhnya berat, berkeringat dan bau, darahnya menempel di baju dan lenganku. Dia langsung duduk menggelosor di lantai kamar mandi dengan darah yang terus mengucur. Cukup lama aku memandangnya sebelum akhirnya tersadar oleh gerakan Mat Soni mengeluarkan pisau dari saku celananya.

“Jangan takut,” katanya, lalu melempar pisaunya ke hadapanku. “Untukmu.”

Tapi aku tidak mengambilnya.

Dia tertawa terkekeh, giginya diselimuti darah. Dia batuk sebentar lalu mengambil air dengan gayung dan menyiramnya ke perutnya. Dan setelah itu dia dia bercerita tentang mobil yang dicurinya tadi pagi.

“Sialnya aku ketahuan,” kata Mat Soni. “Pria kurus brengsek itu menusukku. Aku menusuk balik. Kutusuk jantungnya satu kali. Kutusuk perutnya tujuh … tidak, tidak. Tapi sembilan kali. Aku masih bisa merasakannya,” sambil melakukan gerakan menusuk dengan tangan kanannya. “Aku membunuh ketiganya.”

Darahnya terus mengucur, keringatnya semakin deras, nafasnya mulai tersengal-sengal. Dia terbatuk beberapa kali sebelum memuntahkan darahnya yang menimpa wajahku. Dia mentertawaiku, tapi tidak berapa lama suara tawanya memelan. Lalu dia menatapku, dan semakin lama tatapan itu semakin ganjil hingga meresap ke dalam diriku.

Aku tahu Mat Soni mati karena tidak ada lagi nafas yang keluar dari hidungnya dan tidak ada lagi jantung yang berdegup saat kupegang nadi di lengannya. Sejak saat itu aku tidak lagi takut pada mayat, tidak seperti sebelumnya saat aku ketakutan melihat mayat nenekku.

Aku mengambil pisau milik Mat Soni dan memandangnya dengan penuh kekaguman. Kemudian setelah itu keadaan seperti dalam gerakan lambat saat orang-orang berhamburan masuk ke rumahku. Entah bagaimana mereka tahu keberadaan Mat Soni.

“Kau membunuhnya, Nak. Kau membunuh Mat Soni!”

Aku melihat bayangan masa depanku melintas begitu saja di kepala. Bayangan yang sama dengan yang kualami saat, sesaat setelah aku membunuh seorang lelaki dengan pisau Mat Soni, korban kelimaku tahun ini. Aku melihat Mat Soni tersenyum lagi.

* * *

 

Tagged as:

Author: Ali Reza

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.