Steik Tuna Mr. Trump

(Sebelumnya Steik Tuna Mr. Obama)

 

“Kami makan di restauran,” Keith berkata. “Aku, Mr. & Mrs. Trump, dan Dr. Lee.”

Keith adalah pasien baruku sehingga aku harus benar-benar mempelajari catatan medisnya. Ia mengalami gangguan nafas akut, demam di malam hari dan sering mengeluh masalah ginjalnya. Terapi yang diberikan Dr. Lee hanya pengobatan jangka pendek dan ini sangat menggangguku. Tapi aku dokter yang berpengalaman. Aku tahu lebih dari dua ribu komposisi obat berserta nama patennya meski hanya sembilan puluh persen yang aku hapal harganya. Aku selalu meminta Bob untuk membelikanku buku daftar obat terbaru sebagai upayaku mengikuti perkembangan obat.

“Baiklah Keith, buka kancing bajumu.”

Ketih agak lama merespon permintaanku sehingga aku harus mengulang sekali lagi dengan suara lebih keras.

“Maafkan aku, Dok. Aku masih teringat Mr. Trump.”

“Kau selalu mengingatnya. Kau selalu ingin menceritakannya.”

Keith membuka kancing bajunya, tapi ia membuka semuanya.

“Keith, kau tidak perlu membuka semuanya. Dua kancing saja.”

“Oh, eh. Maaf, Dok.”

Keith selalu minta maaf. Maaf untuk ini, maaf untuk itu. Aku tidak mengerti apa kesalahannya kepada orang lain. Tapi aku profesional. Sering kali hanya dengan mendengar keluhan, aku bisa membantu penyembuhan pasien lebih cepat meskipun itu terasa menggelikan dan aneh.

“Jadi, kau makan malam apa dengan … Presiden kita?” aku berkata sambil menahan tawa geliku ketika menyebut ‘Presiden kita’.

“Kau tertawa, Dok.”

“Tidak. Aku tidak tertawa.”

“Ya, kau tertawa.”

“Ok, Keith. Aku tertawa. Maafkan aku.”

“Kau selalu minta maaf, Dok.”

Aku selesai memeriksa detak jatungnya. Tidak ada masalah dengan jantungnya, iramanya stabil dan terdengar kecang di telingaku. Hanya saja stetoskop membuat kedua telingaku sakit.

“Sekarang buka mulutmu lebar-lebar.”

Keith membuka mulutnya sangat lebar, bau tidak sedap keluar dari dalamnya.

“Keluarkan lidahmu dan katakan: ‘AAA’.”

Keith menuruti perintahku. Aku mulai mengarahkan senter kecilku sambil menahan bau mulutnya. Gigi atas dan bawahnya bolong, lidahnya pucat dan itu berarti menandakan sesuatu. Aku berpikir sebentar. Ada indikasi-indikasi peradangan, dan analisaku mengarah pada penyakit aneh yang terjadi belakangan ini seperti flu babi, flu burung, sapi gila atau mungkin hanya asma.

Keith mengatakan sesuatu yang tidak jelas sambil menunjuk-nunjuk ke arah mulutnya.

“Sebentar, Keith. Aku sedang berpikir.”

Keith mengangguk. Seharusnya ia mengerti tugas seorang dokter. Menentukan penyakit dan obat-obatan yang akan diberikan pada pasien merupakan sesuatu yang penting.

“Kau boleh menutup mulutmu, Keith.”

Keith menutup mulutnya, ia berkata, “Aku sakit apa, Dok?”

“Entahlah. Sekarang berbaringlah.”

Aku menekan bagian kiri perutnya dan menanyakan apakah terasa sakit di bagian itu.

“Tidak, Dok. Bagian itu baik-baik saja.”

Aku memindahkan tanganku ke bagian tengah perutnya, lalu naik sedikit, dan menekannya lebih keras hingga aku melihat Keith merasa seperti kehabisan nafas.

“Hu-uh itu sakit sekali, Dok.”

Aku kembali ke mejaku setelah mendapat kesimpulan, dan setelah itu memanggil Ketih dan menyuruhnya duduk di hadapanku.

Keith melompat dari ranjang dan duduk menunggu di hadapanku sementara aku menulis resep obat untuknya.

Aku seorang dokter spesialis jantung lulusan Harvard yang bertugas mulifungsi sejak menginjakkan kaki di rumah sakit ini. Rumah sakit yang kumaksud adalah rumah sakit kelas satu di Chicago dengan fasilitas payah. Ini malam natal, hampir semua dokter pergi bertemu keluarga mereka, kecuali aku yang memang memiliki hati tulus mendampingi pasien. Satu jam lagi aku akan melakukan operasi usus buntu, setelah itu kunjungan ke bangsal TBC untuk memantau keadaan pasien-pasienku. Dan dalam semua kasus, aku terpaksa menjadi psikiater.

“Keith, kau belum menceritakanku tentang makan malammu.”

Well, Dok. Mr. Trump memesan makanan untukku. Beliau tanya, apakah aku suka steik? Aku jawab aku sangat suka steik. Kautau dok, aku suka semua makanan,” Keith tersenyum.

“Jadi, apa yang kaumakan?”

“Steik tuna.”

“Kaumakan steik tuna?”

“Mr. Trump juga makan steik tuna. Sangat lezat, Dok.”

“Trump tidak makan Steik. Ia seorang vegetarian sama seperti aku.”

“Tidak, dok. Mr. Trump makan steik tuna, dan beliau bilang ini steik terlezat di Chicago.”

“Kau salah, Keith. Trump tidak makan daging. Begitu juga istri dan kedua anaknya. Ia mendidik keluarganya dengan baik untuk hidup sehat. Kautahu, daging itu penuh dengan parasit. Parasit itu sumber penyakit. Aku mempelajarinya di Harvard.”

“Tapi ikan bukan daging, Dok. Mr Trump makan Steik tuna. Beliau menghabiskannya dan hampir-hampir nambah jika tidak menyadari dirinya sedang berada di hadapan wartawan.”

“Aha! Kau pintar, Keith. Tapi kau tidak cukup cerdas. Apakah kau cukup punya bukti bahwa Trump makan steik? Kaubilang ada wartawan. Kau bisa menunjukkan beritanya padaku?”

“Tidak, Dok. Aku tidak punya korannya.”

“Jadi kau mengakui aku yang benar dan kau yang salah.”

“Kau benar, Dok. Aku yang salah. Maafkan aku.”

“Kau selalu minta maaf, Keith.”

Aku merobek lembaran kopi resep dan memberikannya pada Keith. Ia membaca resep yang kutulis. Lama sekali ia membacanya.

“Kau tidak perlu menatapnya. Berikan saja pada orang di apotik dan ambil obatnya.”

“Baik, Dok.”

Keith berjalan ke luar ruangan, tapi ia berhenti di tepi pintu lalu mengucapkan sesuatu yang tidak perlu padaku: “Terima kasih, Dok.”

Keith pasien terakhirku dan kurasa aku bisa istirahat lebih awal malam ini. Ia pasien spesial meski ia kerap terobsesi bertemu Trump. Untuk pasien spesial terkadang aku harus mengikuti permainannya. Tapi menyetujui Trump makan steik adalah tidak mungkin karena aku tahu betul kawan masa kecilku itu. Aku bangkit dan berdiri di hadapan cermin ajaib, memandang diriku dalam jas putih baru yang terlalu sempit dan membuat perih di bagian ketiak. Mungkin lain kali aku akan meminjam jas Dr. Allan. Ukuran tubuhnya sama denganku.

Sebentar kemudian Dr. Lee datang bersama Bob. Aku menyukai Dr. Lee karena ia seorang wanita cerdas meskipun harus kuakui ia tidak lebih cerdas dariku dalam menganalisa penyakit dan memberikan terapi untuk para pasien.

“Jadi, Keith pasien terakhirmu, Joe?”

“Ya, dan aku memberikan pengobatan yang terbaik untuknya. Ia akan sembuh dalam beberapa hari.”

“Kau memang hebat Joe. Jadi, boleh kuminta jasku kembali.”

“Silahkan, Dok.”

Aku melepas jasnya dengan susah payah dan memberikan padanya.

“Dok, boleh aku bertanya padamu?”

“Tentu.”

“Apa betul Trump menyukai steik tuna?”

“Presiden sangat menyukai steik tuna, Joe. Darimana kautahu? Ah, Keith pasti memberitahumu.”

Aku melihat Bob memberikan koran pada Dr. Lee, lalu Dr. Lee menunjukkan padaku halaman depannya. Di situ ada foto Dr Lee, Keith, Trump dan Michelle, dan Bob berdiri di samping mereka. Aku meminta koran itu untuk kubaca. Bob memberikannya padaku. Tapi aku tidak membaca apapun. Tapi jika kau bisa membaca, seperti inilah tulisan tersebut di koran:

PRESIDEN MENYUMBANG US$ 200.000 UNTUK RSJ CHICAGO

“Seharusnya kau yang makan malam dengan Presiden, Joe. Tapi malam itu kau terus menendang-nendang ranjang dan menyakiti dirimu sendiri sehingga Bob terpaksa harus mengikatmu. Kamu ingat-kan?”

“Aku ingat, Dok. Ma’afkan aku.”

“Sekarang kau kembali ke kamarmu. Bob akan mengantarmu.”

“Okay, Dok.”

Bob memegang tanganku tanpa menariknya seperti yang biasa ia lakukan jika aku bersikeras tidak mau kembali ke kamar karena iblis-iblis bersayap masih berterbangan di kamarku.

“Dr Lee?” aku memanggilnya.

“Ya, Joe,” jawabnya, tersenyum padaku. Senyumnya seperti malaikat.

“Terima kasih telah mengusir iblis-iblis itu dari kamarku.”

“Sama-sama, Joe.”

Aku memandang Dr. Lee untuk terakhir kalinya malam itu. Aku menyukai 89 di bajuku. Dr. Lee bilang iblis-iblis tidak akan datang kembali selama 89 itu masih menempel di bajuku.

***

Tagged as:

Author: Ali Reza

Penulis amatir || bekasinet.com || facebook.com/alirezabekasi || instagram: @alirezabekasi