Zombie di Sekolah

Jumat lalu, Pak Hartono – kepala sekolahmu – memanggilmu ke ruangnya karena kamu sudah bolos tiga hari berturut-turut.

Pak Hartono tidak pernah bosan melihatmu, tapi kamu bosan berada di ruangan itu. Pak Hartono memakai peci hitam dan kemeja batik seperti biasa. Kumisnya bergerak turun-naik, ludahnya berterbangan saat bercerita tentang masa kecilnya membantu sang ayah di sawah dan perjuangannya berjalan kaki 20 km menuju sekolah. Tapi kamu tidak mendengarnya, matamu terpaku pada seekor lalat di peci Pak Hartono.

Makhluk yang mengerikan, katamu dalam hati, merujuk pada matanya yang merah. Pikiran liarmu membayangkan monster kecil itu terbang masuk ke dalam telinga Pak Hartono untuk menyebarkan virus di otaknya. Lalu Pak Hartono akan terdiam seperti patung, matanya berputar-putar dan tidak berapa lama kepala sekolahmu sudah sepenuhnya menjadi zombie.

Aku harus menccegahnya, katamu, mengambil buku di atas meja lalu dengan cepat melayangkannya ke kepala Pak Hartono.

“PLAK!”

Pak Hartono terhuyung, pecinya miring ke kiri. Untuk beberapa saat pandangannya berkunang-kunang.

Kamu cukup keras memukulnya, maksudku sangat keras hanya untuk membunuh seekor lalat. Tapi sayangnya kamu masih kurang cepat karena lalat itu bisa melarikan diri.

Setelah kembali normal Pak Hartono membetulkan posisi pecinya. Dia mencoba memahamimu dan menganggapmu sedang mengalami hari-hari yang berat.

“Bapak tidak menyalahkanmu, Nak,” kata Pak Hartono. “Kamu sebenarnya anak yang baik. Kamu hanya butuh perhatian.”

Kemana lalat itu? kamu berkata dalam hati, memandang berkeliling mencari-carinya.

“Bapak dulu juga pernah nakal,” Pak Hartono kembali bercerita tentang masa kecilnya. “Waktu itu bulan puasa. Bapak sengaja memukul beduk setengah jam lebih cepat …,” kemudian perlahan-lahan suara Pak Hartono semakin samar terdengar.

Kamu punya teori sendiri tentang lalat tadi: Pertama, benda itu adalah robot yang memiliki kaki-kaki listrik yang dapat membuat manusia patuh pada perintah pengendalinya. Kedua, benda itu hasil dari mutasi sebuah percobaan gagal tapi menciptakan jenis virus baru yang bisa menyebabkan wabah zombiloma.

“ … dan seperti itulah kisahnya,” kata Pak Hartono. “Bapak harap bisa menjadi pelajaran buatmu. Nah, sekarang kamu boleh kembali ke kelas.”

Tapi kenyataannya suara Pak Hartono sama sekali tidak terdengar karena kamu mengawasi lalat lain di sudut meja.

“Nak, … kau boleh keluar,” Pak Hartono mengulangi.

Tanganmu menarik buku di meja dan siap untuk melayangkan pukulan baru. Diamlah kau di sana, makhluk jelek!

“Nak?!” Pak Hartono berkata dengan lebih keras. Beliau belum pernah berkata sekeras itu kepada muridnya.

Kamu terhenyak, dan lalat itu pun menghilang. Sial!

“Kamu boleh keluar.”

Kamu bangkit tanpa mengucapkan kata maaf atau terima kasih, dan setelah itu pergi keluar ruangan dengan penuh kecemasan.

* * *

Nama kamu Janu, nama belakangmu Santoso, yang juga berarti nama Ayahmu. Kamu tinggal bersama kedua orang tuamu, seorang adik laki-laki berusia 4 tahun dan seorang asisten rumah tangga berusia 47 tahun yang sudah bekerja di rumahmu sejak kamu dilahirkan.

Kamis pagi lalu, sehari setelah kamu berulang tahun keempat belas, ibumu menyuruhmu segera keluar dari kamar mandi. Nasi goreng buatan Bik Asih sudah siap, aromanya bahkan sampai ke hidung kamu. Tapi hari itu kamu tidak ingin sarapan, tidak juga ingin keluar dari kamar mandi. Kamu hanya ingin tidak pergi ke sekolah.

Ibumu tidak tahu apa yang membuatmu lama di kamar mandi, padahal sebenarnya kamu benci air. Sudah hampir satu jam, bahkan Deni, adikmu, harus pakai kamar mandi lantai atas buat pup. Kamu tidak menjawab panggilan ibumu yang sedang berdandan. Ibumu tampil cantik hari itu, dia akan pergi arisan di jam 10.

“Janu sudah keluar, Bik?” tanya ibumu pada Bik Asih. Dia mengoles lipstik no. 16 kesukaannya, warna merah menantang yang membuat iri para kenalannya.

“Belum, Bu,” jawab Bik Asih.

Tidak ada raut cemas di wajah ibumu. Dia membuka lemari dan mengambil tas Channel merah hadiah ulang tahunnya dari ayahmu.

Bik Asih sangat khwatir padamu. Dia mengambil inisiatif pergi ke kamar mandi dan mengetuk pintu kamar mandi.

“Mas Janu,” panggilnya, “sudah jam tujuh. Nanti terlambat sekolah.”

F**k the school, katamu dalam hati.

Bik Asih mengetuk sekali lagi dan setelah itu memutar knop pintu. Ternyata kamu tidak mengunci pintunya. Jantung Bik Asih berdegup lebih kencang. Dia teringat pernah melihat berita di TV tentang anak yang bunuh diri di kamar mandi. Tangannya ragu untuk membuka pintu, tapi dia terus memberanikan diri. Pintu terbuka perlahan, cukup lebar untuk menengokkan sedikit kepalanya ke dalam. Dia melihat ujung kakimu. Lalu dia membuka pintunya lebih lebar lagi dan menemukanmu terbaring telanjang bulat di lantai dengan mulut berbusa!

Teriakan Bik Asih terdengar ke seluruh sudut rumah, mengganggu ibumu yang masih asik berdandan.

“Ada apa lagi sih?” kata ibumu kesal.

Ibumu, yang sudah memakai sepatu hak 17 inci, berjalan melewati adikmu yang tidak terpengaruh teriakan Bik Asih. Tiga menit kemudian dia sudah tiba di depan kamar mandi. Dia terpaku sebentar melihat kondisimu yang mengerikan, dan setelah itu ikut berteriak histeris.

Dua puluh menit kemudian kamu sudah berada di dalam ambulan yang berlari kencang. Kamu suka dengan suara sirine karena itu berarti menyingkirkan mobil-mobil lain ke pinggir jalan; tubuhmu tertutup kain, badanmu terasa lengket di atas matras.

Hanya ada Bik Asih yang menemanimu, sedangkan ibumu mengekor di belakang dengan Yaris silver pemberian ayahmu di ulang tahunnya yang ke empat puluh. Tapi kurasa kata mengekor tidak tepat karena ibumu tertinggal 5 kilometer di belakang.

Wajahmu pucat, tanganmu dingin, tapi kamu masih bisa mendengar isak tangis Bik Asih yang sesekali meminta maaf padamu.

Kamu merasa tidak enak dan merasa bersalah padanya. Kamu pernah memasukkan garam yang sangat banyak ke dalam mangkuk sup ayahmu. Ayahmu hampir saja memecat Bik Asih. Tapi hanya itu yang kamu ingat dari ratusan kesalahan yang kamu lakukan terhadap Bik Asih. Kamu ingin minta maaf, tapi itu akan mengacaukan rencanamu. Dan sebagai gantinya, kamu memegang tangan Bik Asih untuk menenangkannya.

Perlu beberapa detik sebelum Bik Asih menyadari ada sesuatu yang dingin merayap di atas tangannya. Dia berteriak keras sekali, tapi tidak lebih keras dari suara sirine sehingga sang supir sama sekali tidak mendengarnya. Kamu ingin tertawa, tapi itu malah akan mengacaukan rencanamu.

Ketika ambulanmu tiba di rumah sakit, dua orang perawat dan seorang dokter datang menyambutmu.

“Pasien jatuh di kamar mandi, mulutnya berbusa,” kata perawat laki-laki berambut keriting, “kemungkinan keracunan.”

Dokter memeriksa kedua matamu dengan senter kecil. Kamu berusaha tidak mengedip dengan memasukkan bola hitam matamu ke atas. Seorang perawat cantik datang membantu saat kamu memasuki ruang UGD. Dokter mengatakan sesuatu padanya, lalu perawat itu pergi ke bagian lain. Stetoskop bergerak di sekitar dadamu, jantungmu berdegup sangat kencang.

Perawat cantik kembali dengan sebuah suntikan. Kamu berpikir ini akan seperti dalam film Resident Evil ketika dokter menyuntikmu dengan Virus T buatan Umbrella yang akan membuatmu jadi zombie. Tapi kamu tidak takut jarum suntik. Kamu pernah melewati hari-hari dengan jarum suntik saat imunisasi dan khitanan.

Jarum suntik itu bersinar di bawah sinar lampu, setetes cairan bening keluar dari ujungnya. Lenganmu terasa dingin saat perawat cantik mengusap lenganmu dengan kapas dan alkohol. Kemudian dokter mengangguk padanya seolah mengatakan: ‘Ini saatnya’.

Tapi jarum itu tidak akan pernah menembus kulitmu dan kamu tidak akan merasakan sakit yang luar biasa. Kamu melompat turun, kain penutup tubuhmu jatuh, dan kamu berlari ke luar rumah sakit. Itu bukanlah pemandangan yang indah melihatmu telanjang, tapi itu satu-satunya cara supaya kamu bisa lari dari jarum suntik.

Semua mata tertuju padamu, termasuk ibumu yang baru saja tiba di tempat parkir. “Stupid kid,” kata ibumu tanpa tahu siapa yang dimaksud.

* * *

Memukul kepala sekolahmu tentu saja tindakan bodoh, tapi kamu tidak pernah merasa bersalah. Makhluk itu mungkin saja berasal dari percobaan seorang profesor gila. Jika memang begitu, maka kamu sekarang sedang mengkhawatirkan teman-teman sekelasmu.

Pelajaran matematika sedang berlangsung ketika kamu kembali dari ruangan kepala sekolah; Pak Asep yang mengajar.

Perlu diketahui, ada tiga Pak Asep yang mengajar matematika di sekolahmu: Pertama, Pak Asep Hidayat yang bertubuh pendek, berkumis tipis dan berambut klimis. Kedua, Pak Asep Saepudin, guru matematika lainnya, yang sedikit lebih tinggi dari Pak Asep Hidayat dan cukup gemuk hingga dua kancing di perutnya tidak bisa mengunci. Dan yang terakhir bernama lengkap Asep Permana, guru matematika yang sedang mengajar di kelasmu. Dia paling tinggi dari keduanya, rambutnya agak gondrong dan terlalu serius. Karena tidak efisien memanggil ketiganya dengan nama lengkap, maka mereka lebih dikenal dengan Pak Asep 1, Pak Asep 2 dan Pak Asep 3 sesuai dengan urutan yang kusebut tadi.

Kelas mendadak berubah sepi saat kamu menyelonong masuk dan dengan santai duduk di kursi baris kedua.

“Keren,” kata Deden, teman satu mejamu.

“Sialan,” kata Rino.  “Yang kamu pukul itu ayahku.”

“Lain kali, kamu yang kupukul,” katamu.

“Anak-anak, … sudahlah,” kata Pak Asep 3 menenangkan kalian. “Ini hanya masalah matematika. Janu mungkin salah hitung. Bukan begitu, Janu?”

Kamu tidak menjawab. Bagimu, matematika adalah sesuatu yang sangat mudah dan membuatmu penuh perhitungan sehingga apa yang dikatakan Pak Asep 3 barusan pastinya salah. Kamu hanya memikirkan lalat itu dan tidak lama lagi akan ada kejadian mengerikan di sekolahmu.

Sebenarnya gambaran zombie dalam pikiranmu sudah ada sejak dua minggu terakhir. Dimulai dari  trailer film Resident Evil terbaru yang kamu tonton di TV, lalu tanpa sengaja melintas di depan festival zombie di mal pada hari Sabtu, menyaksikan seorang pria tua yang tiba-tiba jatuh di depanmu saat mengantri di ATM, melihat poster-poster zombie dan mendengar obrolan seputar film Walking Dead di sekolah, dan terakhir tentu saja peristiwa lalat itu. Awalnya kamu menganggap kejadian itu sebagai sesuatu yang biasa, seperti kamu melihat mobil berwarna merah tujuh kali berturut-turut Senin lalu. Tapi entah kenapa perasaanmu tidak karuan saat melihat penjaga sekolah terbatuk-batuk.

“Apa yang terjadi kalau lalat menggigit kita?” tanyamu pada guru biologi.

“Biasanya iritasi, tapi juga bisa menularkan penyakit seperti …”

“Mencret,” kamu memotong. Hmm, sepertinya itu bukan kata yang tepat. Diana, temanmu yang bertubuh gemuk, langsung merasa mual. “Berapa lama?”

“Ibu tidak yakin kamu tidak pernah diare. Kalau langsung diobati, tidak sampai berjam-jam.”

“Bagaimana kalau lalat itu menggigit dan mengubah ibu jadi zombie?”

“Kamu terlalu banyak nonton film, Nak.”

“Tidak. Tapi ibu yang tidak tahu. Berapa lama ibu kuliah? 8 atau 9 tahun? Semua yang ibu pelajari hanya omong kosong. Ibu seharusnya tahu yang jadi pertanyaan berikutnya adalah ‘apa virusnya’?”

“Bakteri, virus, apa pun itu tidak ada yang namanya zombie.”

“Ada.”

“Tidak ada.”

“Ada!”

Gurumu menepuk dahinya. “Oh Tuhan! Kenapa mereka harus syuting di sekolah, katanya dalam hati.

* * *

Kamu lagi-lagi malas untuk pergi ke sekolah; bunyi klakson mobil ibumu terdengar membosankan.

Kali ini kamu tidak ingin berperilaku konyol seperti pura-pura pingsan di kamar mandi. Kamu sudah berpakaian rapih dan siap berangkat, tapi kakimu terasa berat untuk melangkah.

Ibumu memakai kacamata hitam seperti biasa, dan sambil menyetir dia mengoles lipstik dan membedaki wajahnya. Dia bicara tentang teman arisannya yang baru pulang dari Roma. Anak perempuannya yang bernama Michelle adalah teman sekolahmu.

Tapi kamu jarang sekali bicara dengan Michelle. Meski begitu Michelle menyukai sikapmu yang dingin dan sangat mengagumimu. Itulah alasan lain kamu membencinya.

“Ibu dengar Michelle dapat peran utama,” kata ibumu, mengoles kutek di atas setir. “Ini pertama kali dia main film horor. Ibu nggak sabar mau lihat filmnya nanti.”

Tapi kamu cuek, pikiranmu masih tertuju pada sesuatu yang mengerikan yang akan terjadi di sekolah: zombie-zombie menyerang sekolah dan memakan seluruh guru dan siswa.

Kamu tiba di sekolah cukup pagi, ibumu ingin memberikan ciuman, tapi kamu tidak suka ada lipstik di dahimu. Kamu membuka pintu buru-buru dan meninggalkan ibumu yang sedang melambaikan tangan.

Ketika bel pertama berbunyi kamu tidak langsung melangkah menuju kelas tapi pergi ke arah lorong menuju toilet guru, satu-satunya tempat yang kamu percaya tidak akan ada gangguan.

Itu bukan pertama kalinya kamu ‘menetap’ di sana. Bulan lalu, tanpa sengaja kamu pernah mendengar guru bahasa dan guru matematika sedang membicarakan kamu di tempat itu. Suara guru bahasa terdengar marah saat di dalam kelas kamu pernah menyebutnya seorang penyair kampungan. Tapi guru matematika yang kamu kenal suaranya sebagai Pak Asep 2 malah memujimu sebagai anak pandai dan penuh perhitungan.

Kamu juga pernah mendegar perselingkuhan guru kimia dengan guru olah raga yang tentu saja tidak bisa kuceritakan di sini. Tapi apa yang ingin membuatmu ingin berada di tempat itu adalah karena obrolan telepon tentang lalat dan percobaan biologis yang lepas di sekolahmu sehari sebelum kamu dipanggil kepala sekolah. Kamu sama sekali tidak mengenali suara pria itu. Dia sepertinya bukan guru atau karyawan sekolah. Kamu hanya mengenali sepatu hitamnya yang mengilap dengan metal di ujung.

Tampaknya pikiranmu terlalu lelah dan toilet itu jadi tempat yang cukup nyaman untuk tidur. Ini kali pertama dalam dua minggu terakhir kamu bisa tidur nyenyak.

* * *

Entah sudah berapa lama kamu tertidur, kamu terbangun setelah mendengar begitu banyak teriakan di luar.

Kamu membuka pintu perlahan dan mengintip keluar, tapi tidak menemukan siapapun di sana. Dari lorong kamu bisa melihat ke sebagian lapangan basket yang dipenuhi orang-orang berlarian. Terdengar bunyi letusan, asap tipis menghalangi pandanganmu. Tentu saja melihat mayat hidup bukan menjadi sebuah kejutan bagimu. Terlambat, hanya itu kata yang bisa kamu ucapkan. Kamu menyesali mengapa tidak mencegahnya dari awal.

Alarm meraung-raung, spinkler mengeluarkan air di sepanjang lorong dan kelas, kamu merapat ke dinding lalu melangkah dengan sangat hati-hati.

Dalam situasi seperti ini tidak sedikit orang yang bertindak ceroboh atau sok menjadi pahlawan. Tapi tindakan pahlawan tetap diperlukan, bahkan jika itu berarti membunuh teman-teman zombie-mu sendiri.

Di hadapanmu muncul barisan zombie berseragam sekolah dengan wajah-wajah mengerikan, suara menggeram dan lapar. Kamu satu-satunya hidangan yang tersedia di tempat itu.

Mereka berjalan sangat lambat.

Kamu bisa saja melewati mereka dengan mudah dan pergi menuju pintu gerbang, tapi kemungkinan selamat sangat kecil karena kamu tidak tahu seberapa banyak lagi zombie-zombie lainnya yang sudah menunggu. Kamu memutuskan bergerak ke arah selatan, genangan air menghambat langkahmu.

Kamu berlari melewati kelas-kelas yang sepi dan berbelok menuju arah tangga. Namun belum sempat kamu menaiki anak tangga, kamu melihat seorang pria dewasa dengan sepatu hitam mengilap dengan metal yang pernah kamu lihat di toilet di pinggir lapangan basket. Pria itu menatapmu, tapi kamu tidak peduli dan mulai menaiki anak tangga.

Kini kamu sudah berada di lantai 2. Meski begitu, kamu masih belum bisa melihat jelas apa yang terjadi di bawah karena masih terhalang asap. Di bawah, bayangan-bayang bergerak tidak karuan dan teriakan-teriakan semakin terdengar jelas. Kamu berlari lagi menuju ke lantai 3, lantai tertinggi di sekolahmu. Di sana kamu bisa memilih tempat bersembunyi yang aman; di ruang auditorium atau perpustakaan.

Pikiranmu kalut, bayangan kemungkinan kamu menjadi santapan zombie terlintas di kepalamu. Tapi kamu tidak akan membiarkan dirimu digigit zombie, tidak sedikit pun, atau, lebih baik kamu mati daripada hidup menjadi mayat berjalan.

Terdengar bunyi tembakan terdengar berulang-ulang, tapi kamu masih belum bisa melihat jelas apa yang sedang terjadi di bawah.

Kamu beruntung menemukan tongkat bisbol di dekat pintu masuk perpustakaan. Entah bagaimana benda itu bisa ada di depan ruang perpustakaan, tapi kamu tidak ingin berpolemik tentang siapa yang meletakkannya. Kamu mengambilnya dan mengayun-ayunkannya sejajar dengan kepalamu, posisi yang tepat untuk melumpuhkan zombie. Kini kamu lebih percaya diri bersama tongkat itu.

* * *

Keberanianmu diuji saat pintu auditorium terbuka, disusul kehadiran makhluk yang selama ini kamu cemaskan.

Zombie itu seusia denganmu, seorang siswi berambut panjang. Mungkin kamu pernah mengenalnya atau dia yang mengenalmu, tapi kenyataan bahwa dia sesosok zombie mengaburkan rasa pertemanan. Kamu tidak perlu pikir panjang untuk menghantam kepalanya dengan tongkat bisbolmu.

Tapi inilah yang terjadi ketika kamu berpikir sudah mengalahkannya.

Zombie itu berteriak kencang dan setelah itu ambruk. Awalnya kamu ragu untuk mendekati, tapi gerakan nafasnya membuatmu merasa bersalah.

“Michelle!” teriak seseorang di depan pintu. “Oh Tuhan, apa yang terjadi.” Tidak berapa lama zombie-zombie lain berdatangan keluar dari auditorium dan berkerumun di sekitar tubuhnya.

Kamu menjatuhkan tongkat bisbol dan melangkah mundur.

“Kamu memukulnya,” salah satu dari mereka berkata.

Kini semua mata memandangmu. Zombie-zombie itu terlihat marah dan siap menyerangmu.

Kamu mengambil tongkat bisbolmu kembali dan mengacungkannya kepada mereka, tapi kamu tidak mungkin menghabisi mereka semua.

Zombie, meski terkesan lambat, sangat kuat dan berbahaya; satu gigitan kecil bisa fatal akibatnya. Kamu bergerak mundur dan berlari ke ujung lorong. Sayangnya kamu tidak menemukan jalan lain lagi di sana. Hidupmu bisa berakhir di situ sebagai zombie, atau … kamu bisa memilih cara lain yang tidak lebih baik.

* * *

Hanya ada dua orang yang pernah melompat dari lantai 3 sekolahmu selama 27 tahun sekolahmu berdiri: Pertama, siswa kelas 1 yang mengira dirinya Superman pada tahun 1995 dan kedua adalah kamu.

Tubuhmu jatuh sangat cepat, tapi kamu merasa lambat saat melayang. Kamu punya cukup waktu mengingat kejadian-kejadian selama beberapa hari terakhir: tentang poster-poster di sekolah, syuting film zombie di sekolahmu, ucapan ibumu tentang film baru Michelle, dan pemilik sepatu hitam mengilap itu, sang sutradara film. Tentu saja kamu tidak mengenali pria itu karena kamu absen ketika dia datang ke kelasmu untuk menjelaskan rencana syuting di sekolah.

Tubuhmu menghantam di pinggir lapangan basket, kepalamu retak di sebelah kanan, kaki dan tanganmu patah, tulang rusuk menusuk paru-paru dan jantung, darahmu terus mengalir semakin jauh. Kamu hanya bernafas sebentar, meniup genangan darahmu sendiri, dan setelah itu kamu terdiam untuk selamanya.

* * * *

Tagged as: , , ,

Author: Ali Reza

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.